13 Jan, 2026
Teknologi Fototerapi untuk Kondisi Kulit Autoimun
Muhammad Zulfikri Aulia
20 Jan, 2026
Penyakit kulit yang berkaitan dengan sistem imun merupakan tantangan tersendiri dalam praktik dermatologi modern. Kondisi seperti vitiligo, psoriasis, alopecia areata, dan mycosis fungoides tidak hanya berdampak pada tampilan kulit, tetapi juga kualitas hidup pasien. Oleh karena itu, dibutuhkan pendekatan terapi yang efektif, terarah, dan berbasis bukti ilmiah untuk mendukung penanganan penyakit kulit autoimun secara optimal.
Tantangan Terapi Penyakit Kulit Berbasis Imun
Gangguan kulit akibat proses imunologis sering bersifat kronis dan berulang. Terapi konvensional, termasuk penggunaan obat topikal maupun sistemik, dapat memberikan perbaikan klinis, namun tidak jarang disertai risiko efek samping jangka panjang. Di sinilah peran teknologi berbasis cahaya UV mulai mendapat perhatian sebagai alternatif atau terapi kombinasi yang lebih terkontrol.
Pendekatan fototerapi modern berkembang untuk menjawab kebutuhan akan terapi yang mampu menargetkan lesi secara selektif, tanpa memberikan paparan berlebih pada jaringan kulit sehat. Teknologi ini dirancang untuk mendukung efektivitas terapi sekaligus meningkatkan aspek keamanan dan kenyamanan pasien.
Prinsip Fototerapi dalam Dermatologi
Fototerapi bekerja dengan menggunakan energi cahaya UV pada panjang gelombang tertentu untuk menangani kondisi medis. Dokter dapat menyesuaikan dosis berdasarkan kondisi lesi, lokasi, dan respons pasien. Hal ini sangat penting dalam pengelolaan penyakit kulit autoimun, yang membutuhkan konsistensi terapi dan kontrol dosis yang akurat.
Salah satu teknologi yang telah banyak diteliti adalah excimer light dengan panjang gelombang UVB 308 nm. Teknologi ini memungkinkan penanganan lesi lokal secara selektif, sehingga meminimalkan paparan pada kulit normal di sekitarnya.
Exciplex sebagai Inovasi Perangkat Fototerapi
Exciplex merupakan salah satu perangkat inovatif yang mengadopsi konsep targeted excimer light therapy. Perangkat ini dirancang untuk membantu dokter memberikan terapi cahaya secara presisi pada area kulit yang memerlukan penanganan khusus. Dengan desain yang ergonomis yang memudahkan penggunaan dan pengaturan parameter, Exciplex dapat diintegrasikan ke dalam praktik klinis dermatologi sehari-hari.
Penggunaan Exciplex tidak dimaksudkan untuk menggantikan seluruh modalitas terapi, melainkan sebagai bagian dari pendekatan komprehensif dalam menangani penyakit kulit autoimun, baik sebagai terapi tunggal maupun kombinasi sesuai indikasi klinis.
Fototerapi untuk Siapa Saja?
Fototerapi biasanya direkomendasikan oleh dokter spesialis kulit bagi pasien yang memiliki kondisi kulit kronis atau autoimun, yang membutuh lebih dari sekedar pengobatan topikal (oles). Berikut adalah beberapa contoh kondisi kulit yang dapat menjalani fototerapi:
-
Penderita Psoriasis
Fototerapi sangat efektif dalam memperlambat pertumbuhan sel kulit yang terlalu cepat pada pasien psoriasis, sehingga mengurangi sisik dan penebalan kulit.
-
Pasien Vitiligo
Terapi sinar (khususnya Narrowband UVB) dapat membantu merangsang kembali produksi melanosit (sel warna kulit) untuk mengembalikan pigmen pada area kulit yang memutih.
-
Eksim (Dermatitis Atopik) Kronis
Fototerapi juga dapat membantu menenangkan peradangan pada sistem imun di kulit, khususnya untuk pasien dengan eksim yang sering kambuh dan terasa gatal.
-
Kondisi Kulit Lainnya
Selain autoimun, fototerapi juga sering digunakan untuk menangani Lichen Planus, Pruritus (gatal kronis), hingga beberapa jenis limfoma kulit tahap awal.
Penting untuk dicatat bahwa prosedur ini harus melalui diagnosis dokter. Dokter akan menentukan apakah kondisi kulitmu masuk dalam kategori yang memerlukan intervensi teknologi fototerapi.
Efek Samping Fototerapi
Sama seperti prosedur medis lainnya, fototerapi memiliki efek samping. Namun risiko ini dapat dikelola dengan baik melalui pengawasan dokter. Berikut adalah beberapa hal yang perlu diperhatikan:
Efek Samping Jangka Pendek (Umum Terjadi)
Efek samping ini biasanya bersifat ringan dan sementara, mirip dengan reaksi kulit saat terpapar sinar matahari:
-
Kemerahan dan Rasa Hangat (Erythema)
Mirip dengan sunburn ringan, biasanya muncul beberapa jam setelah terapi dan akan mereda dengan sendirinya dalam 1-2 hari.
-
Hiperpigmentasi Sementara
Pada beberapa kasus, area kulit sehat yang terkena sinar mungkin akan sedikit menggelap secara sementara.
-
Lepuh (Blisters)
Pada kasus langka, fototerapi dapat menyebabkan kulit pasien melepuh. Sebaiknya treatment ditunda sampai kulit membaik.
Keamanan dan Pencegahan Risiko
Untuk menjaga keamanan pasien, protokol fototerapi mencakup:
-
Dosis Terukur
Mesin fototerapi modern memungkinkan dokter mengatur dosis energi yang sangat presisi sesuai dengan kondisi kulit pasien.
-
Perlindungan Area Sensitif
Selama prosedur, area mata akan dilindungi dengan kacamata pelindung khusus (goggles), dan area yang tidak memerlukan terapi akan ditutup.
Dengan mengikuti instruksi dokter dan melakukan perawatan pasca-terapi yang tepat, fototerapi dapat metode yang sangat aman dan menjadi titik balik bagi banyak pasien penyakit kulit autoimun untuk dapat kembali meningkatkan kualitas hidup mereka.
Penutup
Perkembangan teknologi fototerapi membuka peluang baru dalam penatalaksanaan penyakit kulit autoimun. Dengan dukungan perangkat inovatif seperti Exciplex dan komitmen riset dari perusahaan seperti Clarteis, dokter memiliki lebih banyak opsi terapi yang terarah, aman, dan berbasis bukti ilmiah. Pendekatan ini diharapkan dapat meningkatkan hasil klinis sekaligus kualitas hidup pasien dalam jangka panjang.
Bagikan artikel ini
Muhammad Zulfikri Aulia
Product Marketing Specialist